Benarkah Kubikasi Mesin Motor Wajib Dipertimbangkan Sebelum Touring?


Pengalaman pribadi yang termotivasi untuk upgrade motor karena ingin merasakan dan mendapatkan barokah touring bersama pembina, asatidz, dan member Muslim Biker Indonesia (MBI). Secara pribadi satu perjalanan menggunakan sepeda motor atau mobil saya sebut touring jika jaraknya sudah di atas 82 kilometer. 

Kenapa mesti MBI ? Sebenarnya tidak mesti dengan MBI, malah awalnya saya membentuk Bikers Subuhan (BS) Depok dan tergabung dalam Biker Muslim Indonesia (BMI). Dari wadah yang dibentuk bersama teman di Depok saya tidak mendapatkan apa yang diharapkan yakni motoran ditambah dengan kajian tentang Islam dari orang yang relevan dan layak. Kegiatannya hanya keliling salat Subuh dan selepas itu cari tempat ngopi dan ngorol tentang keislaman. Dalam bayangan saya selepas salat subuh itu ada kajian, tapi hanya sedikit masjid yang disinggahi yang menyelenggarakan kajian selepas shalat subuh. 

Yang bikin kesabaran naik adalah BMI, urutannya sih tergabung dulu disini baru bikin BS Depok. Jadi beberapa hari setelah gabung di Whatsapp Group (WAG) pada tahun 2018 saya komentar tentang Abu Albani yang notabennya adalah ketua atau pendiri dari BMI. Motor yang digunakannya menggunakan sirine dan rotator, padahal kedua alat tersebut dalam aturan undang-undangnya adalah hanya untuk petugas dari kepolisian dan TNI serta beberapa unsur lain yang memang diizinkan. 

Setelah ditanyakan alasan mengapa kedua alat itu digunakan dan disampaikan juga regulasinya seperti apa jadi bikin kesabaran harus ditinggikan. Adapun jawaban yang ia sampaikan adalah bahwa dirinya sudah mendapatkan izin dari polisi untuk menggunakan alat tersebut. 

Ini adalah perkumpulan yang mengatasnamakan identitas keagamaan namun pendirinya sendiri tidak mengikuti aturan dari pemerintah yang jelas-jelas itu memiliki manfaat jika diikuti. 

 Touring Menggunakan Motor Ber-cc Kecil 

Tahun 2015 alhamdulillah dapat kesempatan riding dari Jakarta ke Bukitinggi, Sumatra Barat. Saat itu motor yang digunakan adalah Vario 125. Hasilnya perjalanan dapat ditempuh dengan aman, selamat, dan untuk hal kenyamanan disesuaikan. 



Setelah gabung di MBI, ada nasihat untuk touring bersama harus menggunakan motor dengan kubikasi mesin di atas 250cc. Secara otomatis pikiran ini langsung menangkap bahwa hal tersebut adalah untuk keamanan dan kenyamanan. Karena pernah merasakannya sendiri jika motoran jarak jauh menggunakan motor kecil rasanya bikin pegal. 

Pernah ada kejadian saat riding ke Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat start dari Bogor. Saat itu di ruas jalan Cikidang, dibuat kaget karena salah satu peserta rombongan hampir bertabrakan dengan pengguna jalan lain. Jalanan menurun dan berbelok, setelah diperhatikan ia menggunakan Vario 125. Sementara pimpinan rombongan menggunakan motor 250cc. 

Diduga pengendara Vario 125 tersebut mau mengimbangi kecepatan motor di depan, namun ia lupa bahwa kemampuan pengereman motor itu sudah disesuaikan dengan kecepatan yang dihasilkan. 

Menyikapi hal tersebut membuat saya bertanya pada Kadiv. Touring MBI Pusat, Yudho Aire Widodo dan kenalan di lembaga pendidikan dan pelatihan berkendara Anpreso yakni Dado yang juga instruktur safety. 

Om Yudo pada pekan pertama September 2022 baru pulang riding Jakarta-Bali dalam rangkaian kegiatan Journey to Jannah. Terkait kubikasi mesin (cc) untuk turing ternyata penikmat motor Suzuki ini sudah mewanti-wanti dan menyimpan perhatian yang besar. 

Saat briefing dengan chapter MBI yang akan mengikuti rombongan Journey to Jannah ke-3, saat itu etape Semarang-Lamongan Yudho menyampaikan bahwa sebenarnya dari MBI Pusat tidak memilah cc motor, namun untuk turing kita punya pengaturan untuk hal keselamatan berlalu lintas. 



"Bukan tidak boleh, namun sebaiknya touring dengan motor yang sekelas karena setiap cc punya desain rem yang berbeda. CC yang besar bisa rem mendadak, cc yang dibawahnya kemungkinan besar tidak dapat sehingga bisa membahayakan riders lainnya. Bukan memilah cc, namun lebih kearah untuk kepentingan keselamatan bersama." ungkap om Yudho yang bertugas sebagai Road Captain selama J2J3.  

Sementara itu, Dado dari Anpreso ketika ditanya terkait kelayakan motor ber-cc kecil (125-150cc) ikut rombongan turing motor 200-1000 cc menjawab semua motor sah saja berkendara berkelompok dengan kubikasi mesin berbeda. Hal ini didasari karena jalan raya diperuntukan untuk semua mesin dengan berbagai cc. 

"Dalam berkendara berkelompok baiknya sepeda motor dengan cc terkecil diposisikan di bagian depan rombongan agar tidak mudah tertinggal atau terpisah dari rombongan. Akan tetapi lebih nyaman lagi jika perbedaan cc dalam satu kelompok turing tidak terlalu jauh," ungkap Dado yang baru turing keliling 5 negara di ASEAN. 

Dado juga menambahkan bahwa baiknya sebelum perjalanan berkelompok (turing) dimulai semua peserta harus tahu jalur yang akan dilewati, jumlah peserta, jumlah officer, waktu dan tempat pemberhantian. 

Adapun pengalaman ikut bersama rombongan pembina, pengurus, dan member MBI dalam Journey to Jannah ke-3 saya merasa kaget dan heran. Espektasi saya dengan motor 250cc, 650cc, 800cc, dan 1000cc akan sering memaksimalkan kemampuan motor, ternyata tidak! 

Kejadian pertama saat baru start dari Jakarta, setelah keluar dari Titik Kumpul (Tikum) saya izin ke officer untuk isi bensin dan tidak usah ditunggu. Setelah selesai saya langsung tancap gas, hasilnya sampai ke Indramayu saya tidak bareng rombongan. Dalam pikiran saya jalanan saat itu (jam 3 dini hari) lenggang dan rombongan pasti gaspol, nyatanya tidak. 

Setelah menepi untuk salah subuh di salah satu masjid, saya koordinasi dan mendapatkan informasi bahwa rombongan berjarak 30 km di belakang saya. 

Saat riding dari Indramayu sampai ke Lamongan saya baru paham bahwa perjalanan turing MBI ini tidak serta merta memaksimalkan kecepatan motor. Malah terkesan menikmati perjalanan dan keindahan alam yang dilalui, namun tidak dipungkiri di jalan yang dinilai kondusif dan dihafal beberapa peserta gaspol kemudian kembali menunggu rombongan. 

Sejauh ini slogan Muslim Biker Indonesia yakni Indahnya Touring, Nikmatnya Kajian kian terasa. Apalagi Ustadz Subhan Bawazier selaku pembina MBI selalu mengingatkan jadilah ulil albab dalam perjalan turing. ##